Pasti masih ingat di benak kita bencana yang melanda propinsi di ujung pulau Sumatera yang terjadi 26 Desember 2004, tsunami merupakan bencana terhebat yang pernah ada selama saya hidup. Sedih kita melihat para korban, kehilangan orang – orang tersayang, harta dan benda.
Tapi pernahkah terpikir oleh kita yang tidak terkena musibah itu bahwa terdapat banyak sekali pelajaran – pelajaran hidup yang harus kita renungkan dari kejadian itu…?? Tidak cuma dengan memberi bantuan saja tapi juga ikut merasakan betapa marahnya Tuhan pada kita. Karena kita manusia yang semakin hari semakin congkak, semakin sombong dan semakin egois terhadap alam, dan terhadap makhluk – makhluk ciptaan-Nya.
Sedikit tentang Aceh, saya ingin berbagi pengalaman untuk teman – teman semuanya. Pengalaman saya selama saya di Banda Aceh. Pada pertengahan 2007 kemarin saya berkesempatan untuk pergi ke Aceh khususnya di Banda Aceh. Tujuan saya kesana sebenarnya ingin mencari peruntungan hidup, tapi ternyata mungkin rezeki saya tidak ada di sana akhirnya saya pulang kembali ke kampung halaman saya, Padang kota Tercinta.
Saya menetap di Banda Aceh sih cuma 2 bulan, memang waktu yang singkat untuk mencari pekerjaan, tapi berhubung ternyata cuaca di sana tidak cocok buat saya, akhirnya saya memilih pulang. Setelah bencana tsunami melanda Aceh yang pada waktu itu tentu saja banyak rumah – rumah hanyut, mobil dan yang paling parahnya pohon – pohon besar tercabut sampai ke akar – akarnya yang menyebabkan cuaca di Aceh menjadi sangat – sangat panas. Karena Propinsi Aceh memang sudah dikelilingi oleh laut yang sudah pasti membuat cuaca di sana panas kemudian sekarang ditambah dengan tidak adanya pohon – pohon besar. Pasti bisa membayangkan bagaimana panasnya Aceh.
Selain cuaca, kondisi sanitasi di sana juga masih belum membaik. Kalau hujan lebat, air yang keluar dari PAM atau sumur – sumur menjadi sangat kotor karena bercampur lumpur. Kata teman saya itu sih sudah mendingan dari pada dulu sewaktu baru saja terjadi tsunami, dimana air – air untuk minum, mandi dsb sangat sulit didapat, karena air – air yang dialiri oleh PAM ataupun dari sumur masih tercampur dengan air – air dari bangkai – bangkai manusia dan hewan yang mati. Kebayang ga sih betapa sulitnya di sana.
Setelah terjadi tsunami, PBB langsung mengerahkan bantuannya untuk merehabilitasi Aceh. Sehingga sekarang banyak muncul NGO (National Government Organizations) yang banyak beranggotakan orang – orang bule. Hal ini menyebabkan harga – harga barang kebutuhan di Aceh menanjak drastis, saya aja sampai – sampai ga percaya waktu nanya sayur kangkung satu ikat yang biasanya kalau di padang bisa 1500 tapi di sana bisa sampai 2500 – 3000. Belum lagi polusi yang meningkat di sana karena kuantitas kendaraan lebih banyak dari pada kantitas manusia di sana (Bisa – bisa menyaingi Jakarta).
Cukup dengan semua itu. Selama 2 bulan di Banda Aceh, saya menyempatkan diri untuk jalan – jalan melihat puing – puing bekas tsunami. Diantaranya kuburan massal yang ada di Ulue-Lue. Sayang banget saya ga bawa kamera waktu itu jadi tidak bisa mendokumentasikannya.

Cuma satu ini saja yang bisa di dokumentasikan itupun cuma saya copas ajha dari bapak – bapak yang ada di atas. Dari kiri ke kanan : Pak Zei (Sekretaris salah satu NGO dari Malaysia), Bapak ahli astronomi (saya lupa namanya
), Ustadz Nazmi (Salah satu pimpinan NGO tersebut), aiimoet
dan ka’ Olin (kakak kelas yang juga ikut ke Aceh bersama saya). Itu adalah poto kapal nelayan yang nyangsang di atas rumah karena terbawa arus tsunami. Terbayangkah…??? Kapal itu terseret sejauh 5 Km dari pantai karena kebetulan kapal itu tidak sedang beroperasi. Dahsyat banget gelombangnya pada waktu itu ya…
Apa yang terpikirkan oleh teman – teman semua dari kejadian itu..?? Begitu besarnya kekuasaan Tuhan, kita ini hanya seperti sebutir pasir di pantai bagi-Nya. Harusnya kita sadar akan arti hidup dan Kebesaran-Nya. Mulai hari ini, detik ini masih ada kesempatan untuk koreksi dan merubah diri menjadi lebih baik. Tsunami yang terjadi itu hanya sebuah teguran kecil untuk kita semua dan kita pastinya tidak mau melihat kemrahan Tuhan yang lebih besar lagi kan…??? Mari teman – teman kita mulai dari hal yang kecil dan tentunya dari diri kita sendiri.









dan semoga kita mengambil ikmah dari apa yang terjadi
yup masih ingat,,, ambil hikmah nya ajahhhh
tatap masa lalu untuk kemajuan masa depan……
itu kapal yang di jadikan sebagai manumen peringatan itu yach
**hih** aku dicrita.in langsung sama temenku yang ke aceh jadi merinding ndiri… >_< Semoga kita terhindar dari bencana tsunami seperti beberapa waktu lampau di Aceh
@all
semua kejadian baik itu buruk maupun baik pasti ada hikmahnya dan kita sebagai manusia wajib mengambil hikmah tersebut
Habis tsunami kita masih sering ribut soal kontroversi pencekalan Dewi Persik.. Uda gitu Riri Reza, MFI dan banyak blogger terkesan menyudutkan pemerintah ketika mereka mau ngurusi moral masyarakat (dengan mengesampingkan moral oknum di pemerintah)..
apa kita belum bisa mengambil hikmah semua ini ya…
Butuh waktu lama untuk mengembalikan keadaan Aceh seperti sedia kala. Mungkin satu²-nya yang bakall bikin aceh kembali seperti semuala adalah sikap pribadi masing² masyarakatnya untuk melupakan tragedi Tsunami tersebut dan berusaha untuk kembali membangun hidup tanpa rasa putus asa.
…God Bless Aceh…
yak betull